Loading...
Saturday, March 9, 2013

Tradisi Tato Gusi Menjadi Hitam Gadis Afrika

Tato biasanya 'dilukiskan' di bagian tubuh yang terlihat, seperti lengan, kaki, punggung dan dada. Tapi ada beberapa orang yang membuat 'lukisan tubuh' tersebut di tempat aneh, seperti vagina dan bola mata. Yang paling aneh, gusi ditato hitam legam karena dianggap cantik. Meski dibuat di tempat aneh, tato biasanya dilukiskan dengan desain tertentu yang dianggap unik oleh si empunya tubuh, karena harus menggambarkannya secara permanen di badan.


Namun gadis-gadis di Afrika Barat, seperti Senegal, sengaja menato gusinya seragam dengan warna hitam legam bak arang. Bagi kebanyakan orang tradisi ini mungkin aneh, tapi tidak bagi masyarakat setempat. Gusi hitam dianggap sebagai sesuatu yang cantik.

Gusi bertato hitam sangat popular di kota kecil dan desa seperti Thies, di Senegal. Para gadis mempraktikkan tradisi kuno ini untuk mendapatkan senyum yang dianggap lebih atraktif dan menarik. Tentu saja untuk mendapatkannya gadis-gadis itu harus merasakan proses yang menyakitkan. Seperti diakui Marieme, gadis asal Thies yang baru saja menjalani tradisi ini.

"Ini sakit. Saya tidak akan merekomendasikan penyiksaan ini pada siapa pun," ujar Marieme, sesaat setelah melukis hitam gusinya, seperti tampak pada video dokumentasi Youtube, Untuk mendapatkan gusi berwarna hitam, gadis di Senegal hanya perlu mengeluarkan biaya 1 dolar atau tak lebih dari Rp 10 ribu. Selain membuat gadis-gadis lebih menarik, gusi hitam juga dipercaya membuat mulut lebih sehat.



Tato dibuat dengan menggunakan bubuk hitam yang merupakan campuran dari minyak bakar dan mentega Shea. Bubuk hitam legam tersebut akan dioleskan di atas gusi, yang kemudian akan ditekan-tekan dengan sebuah alat yang menyerupai jarum. Proses inilah yang sangat menyakitkan.

"Makin sedikit wanita yang melakukan ini, tapi beberapa masih merasa tertarik. Khususnya wanita muda yang mencari cinta. Dengarkan saya, gusi yang bertato dan gigi perak, itulah yang membuatnya menarik," jelas salah seorang penato gusi.



1 comments:

Arsip Blog

 
Toggle Footer
TOP